bedadimensi Bandung
Lalu aku makin bersalah, ketika teringat hampir seluruh waktuku tersita untuk mengerjakan tugas-tugas dunia. Sedangkan untuk Allah hanya kuberi waktu sisa. Entah apa yang akan kukatakan padaNya, jika sedetik kemudian Dia memanggilku.
islamographic:

Saying BISMILLAH! “In the Name of ALLAH” - to be published on Islamographic soon!

islamographic:

Saying BISMILLAH! “In the Name of ALLAH” - to be published on Islamographic soon!

(via joule-nal)

(Source: daysbreak, via joule-nal)

Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, tahu persis apa yg hendak dicapainya, maka baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Dan sebaliknya.
Tere Liye (via kakiikan)

hanadiningsih:

Bahagia itu sederhana.

Mungkin ini bukan tentang piala-piala, bangunan bintang lima, dompet tebal, kendaraan mentereng, maupun kefanaan yang dibangga-banggakan oleh pemilik hati dari batu.

Ini tentang aroma tanah selepas hujan reda, secangkir teh yang diaduk lima puluh kali, suara derap langkah kaki ayah saat pulang kerja, berebut channel televisi dengan adik sendiri, napas ibu ketika ia tidur, teman-teman yang membuat semua hal yang tidak lucu jadi lucu…

Dan ketika segalanya rumit…

Mari kembali ke kalimat pertama.

(via kotahujan)

artsy-tektur:

tastysynapse:

Zen Pencils Comic: 98. ALAN WATTS: What if money was no object?

What would you like to do if money were no object?

(Source: kuntawiaji, via noonsky)

Orang-orang cenderung menilai kebahagiaan itu dari apa yang belum mereka punya, padahal seharusnya kebahagiaan itu dinilai dari apa yang kita sudah punya.
Ika Natassa dalam Twivortiare (via kuntawiaji)

// [Kisah] Semangat Dakwah//

ferdiann:

bigzaman:

isnidalimunthe:

Hai temans, hanya ingin share hasil diskusi dan kajian kecil-kecilan, sederhana, dan apa adanya di Grup WhatsApp Muhajirin-Anshar Batch II ya, semoga bermanfaat. :)

Ada kisah menarik tentang semangat dakwah, yang disampaikan oleh DR. Muhammad Ratib an-Nabulsy saat Khuthbah Jumat tertanggal 2 Juli 2010. Sebuah kisah inspiratif terjadi di Amsterdam yang sangat menarik untuk disimak.

Berikut ini Penulis paparkan dengan terjemah bebas dan sedikit diringkas.

“Menjadi kebiasaan di hari Jumat, seorang Imam masjid dan anaknya yang berumur 11 tahun membagi brosur di jalan-jalan dan keramaian, sebuah brosur dakwah yg berjudul “Thariiqun ilal jannah” (jalan menuju jannah).

Tapi kali ini, suasana sangat dingin ditambah rintik air hujan yang membuat orang benar-benar malas untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan untuk mencegah dinginnya udara, lalu ia berkata kepada sang ayah,

“Saya sudah siap, Ayah!”

“Siap untuk apa, Nak?”

“Ayah, bukankah ini waktunya kita menyebarkan brosur ‘jalan menuju jannah’?”

“Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”

“Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!”

“Saya tidak tahan dengan suasana dingin di luar.”

“Ayah, jika diijinkan, saya ingin menyebarkan brosur ini sendirian.”

Sang ayah diam sejenak lalu berkata, “Baiklah, pergilah dengan membawa beberapa brosur yang ada.”

Anak itu pun keluar ke jalanan kota untuk membagi brosur kepada orang yang dijumpainya, juga dari pintu ke pintu. Dua jam berjalan, dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi orang yang lalu lalang di jalanan. Ia pun mendatangi sebuah rumah untuk membagikan brosur itu. Ia pencet tombol bel rumah, namun tak ada jawaban. Ia pencet lagi, dan tak ada yang keluar. Hampir saja ia pergi, namun seakan ada suatu rasa yang menghalanginya. Untuk kesekian kali ia kembali memencet bel, dan ia ketuk pintu dengan lebih keras. Ia tunggu beberapa lama, hingga pintu terbuka pelan.

Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang dalam Wanita itu berkata, “Apa yang bisa dibantu wahai anakku?

Dengan wajah ceria, senyum yang bersahabat si anak berkata, “Nek, mohon maaf jika saya mengganggu Anda, saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda, dan saya membawa brosur dakwah untuk Anda yang menjelaskan bagaimana Anda mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia dan bagaimana cara memperoleh ridha-Nya.”

Anak itu menyerahkan brosurnya, dan sebelum ia pergi wanita itu sempat berkata, “Terimakasih, Nak.”

Sepekan Kemudian,

Usai shalat Jumat, seperti biasa Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit taushiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yang ingin bertanya, atau ingin mengutarakan sesuatu?

Di barisan belakang, terdengar seorang wanita tua berkata,

“Tak ada di antara hadirin ini yang mengenaliku, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jumat yang lalu saya belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berfikir untuk menjadi seperti ini sebelumnya. Sekitar sebulan lalu suamiku meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Hari Jumat yang lalu, saat udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi harapanku untuk hidup. Maka saya mengambil tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumahku. Saya ikat satu ujung tali di kayu atap. Saya berdiri di kursi, lalu saya kalungkan ujung tali yang satunya ke leher, saya memutuskan untuk bunuh diri.

Tapi, tiba-tiba terdengar olehku suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tidak menjawab, “paling sebentar lagi pergi”, batinku.

Tapi ternyata bel berdering lagi, dan kuperhatikan ketukan pintu semakin keras terdengar. Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher, dan saya turun untuk sekedar melihat siapa yang mengetuk pintu.

Saat kubuka pintu, kulihat seorang bocah berwajah ceria, dengan senyuman laksana malaikat dan aku belum pernah melihat anak seperti itu. Ia mengucapkan kata-kata yang sangat menyentuh sanubariku, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Kemudian anak itu menyodorkan brosur kepadaku yang berjudul, “Jalan Menuju Jannah.”

Akupun segera menutup pintu, aku mulai membaca isi brosur. Setelah membacanya, aku naik ke lantai atas, melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan kursi. Saya telah mantap untuk tidak memerlukan itu lagi selamanya.

Anda tahu, sekarang ini saya benar-benar merasa sangat bahagia, karena bisa mengenal Allah yang Esa, tiada ilah yang haq selain Dia.

Dan karena alamat markaz dakwah tertera di brosur itu, maka saya datang ke sini sendirian utk mengucapkan pujian kepada Allah, kemudian berterimakasih kepada kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yang telah mendatangiku pada saat yang sangat tepat. Mudah-mudahan itu menjadi sebab selamat saya dari kesengsaraan menuju kebahagiaan jannah yang abadi.

Mengalirlah air mati para jamaah yang hadir di masjid, gemuruh takbir. Allahu Akbar. Menggema di ruangan. Sementara sang Imam turun dari mimbarnya, menuju shaf paling depan, tempat dimana puteranya yang tak lain adalah ‘malaikat’ kecil itu duduk. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya diiringi tangisan haru. Allahu Akbar!”

Lihatlah bagaimana antusias anak kecil itu tatkala berdakwah, hingga dia mengatakan “Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!” Ia tidak bisa membiarkan manusia berjalan menuju neraka. Ia ingin kiranya bisa mencegah mereka, lalu membimbingnya menuju jalan ke jannah.

Lihat pula bagaimana ia berdakwah, menunjukkan wajah ceria dan memberikan kabar gembira, “Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.” Siapa yang tidak trenyuh hati mendengarkan kata-katanya?

Berdakwah dengan apa apa yang ia mampu, juga patut dijadikan teladan. Bisa jadi, tanpa kita sadari, cara dakwah sederhana yang kita lakukan ternyata berdampak luar biasa. Menjadi sebab datangnya hidayah bagi seseorang. Padahal, satu orang yang mendapat hidayah dengan sebab dakwah kita, lebih baik baik bagi kita daripada mendapat hadiah onta merah. Wallahu a’lam bishawab.
(Abu Umar Abdillah/ arrisalah)

Sekian sharingnya semoga bermanfaat :)

BerSEMANGAT!!

Allah.. T.T

Ya Rabb.. T.T

(via srnakza)

kuntawiaji:

Suatu hari saya berada di situasi yang sulit. Kuku saya sudah panjang dan rasanya ga nyaman banget ngapa-ngapain dengan kuku yang panjang. Solusinya sebenernya simple aja, yaitu mengguntingnya dengan gunting kuku. Yes, tapi masalahnya adalah saya lupa di mana menaruh gunting kuku itu. Saya biasanya menaruh di laci dekat meja komputer agar mudah diambil. Ternyata di sana, tidak ada. Di lemari, tidak ada. Di kulkas (?), tidak ada. Di semua tempat di rumah tidak ada.

Akhirnya saya bertanya ke teman-teman saya di mana saya bisa membeli gunting kuku. Karena berlama-lama membiarkan kuku saya panjang itu rasanya nyiksa banget. Ada yang bilang dijual di abang-abang penjual di kereta ekonomi, lalu ada yang bilang ada yang jualan di jembatan penyeberangan Salemba. Kemudian obrolan dengan teman itu berlanjut ke jenis gunting kuku seperti apa yang sebaiknya saya pakai. “Nanti lo beli yang warnanya emas aja. Soalnya dia bahannya lebih kuat dan ga cepet rusak,” ujar Oknum S mencoba meyakinkan saya. “Oh oke, gue memang pernah punya pengalaman dapet gunting kuku dari kondangan warna abu-abu dan itu rusak sekali pake.”

Demikianlah, hanya karena kehilangan sebuah gunting kuku saja, wawasan saya terhadap gunting kuku menjadi bertambah. Gunting kuku yang biasanya terlupakan dan hanya saya lirik ketika dibutuhkan, akhirnya bisa saya ketahui setiap detail tentangnya. Saya akhirnya membeli gunting kuku baru, bukan di tempat yang diberitahukan oleh teman saya itu, tapi di sebuah toko kecil di stasiun dekat rumah.

Kita seringkali melupakan sesuatu sebelum akhirnya membutuhkannya. Jika itu berupa barang, mungkin tidak terlalu masalah. Lalu bagaimana kalau itu berkaitan dengan hati manusia? Pernah ga, didekati seseorang hanya saat dibutuhkan? Pasti pernah banget dong. Atau sebaliknya, ketika kita sedang membutuhkan suatu bantuan dan akhirnya berujung pada seseorang yang bisa membantu kita (dan sesungguhnya orang itu hampir punah dalam ingatan kita), kita pun dengan sungkan meminta bantuannya. Pada kondisi ini, yang terjadi adalah interaksi ego antara si peminta bantuan dan si pemberi bantuan.

Si peminta bantuan harus menekan rasa sungkannya karena sudah lama tidak berinteraksi (apalagi sebelumnya tidak kenal dekat) dengan rasa keterbutuhan terhadap si pemberi bantuan. Sedangkan si pemberi bantuan harus menekan ego untuk dibutuhkan (dan dilupakan) dengan norma tolong-menolong yang berlaku di masyarakat. Kalau keduanya sama-sama tidak bisa menekan egonya, maka tidak terjadi bantuan yang diharapkan. Si peminta bantuan tidak mau meminta bantuan, si pemberi bantuan tidak tahu kalau dia diharapkan bantuannya. Bagaimana kalau salah satu saja yang tidak bisa menekan egonya? Tetap tidak bisa berjalan. Jika ego peminta bantuan tidak bisa ditekan, maka seperti kasus sebelumnya. Kalau ego pemberi bantuan tidak bisa ditekan, maka meskipun si peminta bantuan memelas-melas, tetap ia tidak akan terbantu.

Maka agar bantuan itu terjadi, kedua belah pihak harus menekan egonya masing-masing. Si peminta bantuan harus introspeksi diri bahwa hal yang dilakukan selama ini terhadap si pemberi bantuan adalah salah. Menjaga silaturahmi adalah suatu keharusan. Ali bin Abi Thalib berkata, “Manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari teman. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman tetapi menyia-nyiakannya.” Karena manusia itu bukan benda yang bisa dilupakan seenaknya, tetapi memiliki hati yang harus dijaga interaksinya. Sedangkan dari sisi pemberi bantuan, janganlah melihat bahwa si peminta bantuan hanya baru datang ketika dia ada maunya. Tetapi lihatlah bahwa dirinya seperti cahaya, yang selalu dibutuhkan ketika orang lain berada dalam kegelapan, dalam kesulitan. Jika ego masing-masing bisa ditekan, maka tolong-menolong dari siapapun untuk siapapun akan terus terjadi. Dengan inilah kebaikan di dunia akan terus abadi.

the-absolute-best-posts:

raychocolatte:
UGH! Still need to watch this movie
Via/Follow The Absolute Greatest Posts…ever.

the-absolute-best-posts:

raychocolatte:

UGH! Still need to watch this movie

Via/Follow The Absolute Greatest Posts…ever.

(Source: aryastark)

Kita hidup
di jaman ketika
Benar
itu salah
how pathetic